SOSIALISASI TANGGAP BENCANA

Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (Upgris) 2020 menggelar kegiatan sosialisasi tanggap bencana peduli lingkungan untuk warga Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, Rabu (5/2/2020). Perwakilan organisasi seperti Karangtaruna, Banser, Ansor, dan anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak pun ikut hadir dalam sosialisasi yang dilaksanakan di balai kelurahan setempat.

“Sosialisasi tanggap bencana dan peduli lingkungan merupakan salah satu program kerja bidang lingkungan KKN Upgris 2020 yang dijadikan sebagai langkah awal dalam membekali warga Desa Wonosalam untuk lebih reaktif terhadap bencana dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya usai kegiatan.

Sosialisasi ini diapresiasi oleh Lurah Desa Wonosalam, Mustona’ Ahmad yang selalu aktif mendampingi mahasiswa dalam menjalankan kegiatan di wilayahnya. “Kegiatan ini sangat bagus dan sesuai dengan kondisi Desa Wonosalam yang beberapa lalu sempat terjadi persoalan, tanggul di Grogol hampir jebol akibat banjir,” ujarnya.

Ketanggapan masyarakat terhadap bencana dan peduli lingkungan merupakan ujung tombak dalam meminimalisir dampak bencana di wilayah rawan bencana. “Bencana terjadi karena disebabkan oleh faktor alam, non alam dan manusia. Tren ke depan bencana akan semakin meningkat karena pengaruh meningkatnya jumlah penduduk, urbanisasi, degradasi lingkungan, kemiskinan, dan pengaruh perubahan iklim global. Selain itu kerusakan lingkungan itu sendiri terjadi karena lahan gundul, penambangan liar, perambahan hutan, kebakaran hutan dan lahan,” ujar Henry Januar Saputra, salah satu pemateri yang dihadirkan dalam kegiatan tersebut.

Adapun hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam meminimalisir dampak bencana yaitu melakukan sosialisasi, membuat penanda rawan dan jalur evakuasi bencana, serta melakukan simulasi kepada masyarakat. Hal tersebut dipertegas oleh Rezki, perwakilan BPBD Kabupaten Demak yang hadir di kegiatan tersebut. Menurutnya hal penting yang harus dilakukan masyarakat adalah membuat tanda evakuasi dan rutin melakukan simulasi bencana. “Jika ada tanda evakuasi tetapi tidak melakukan simulasi bencana ya percuma. Maka dari itu setiap desa tanggap bencana seharusnya ada tanda evakuasi bencana di wilayahnya,” katanya.

Selain penyampaian materi tentang tanggap bencana dan peduli lingkungan, kegiatan ini juga diisi dengan pengenalan aplikasi Inarisk kepada masyarakat Wonosalam. Aplikasi Inarisk merupakan aplikasi yang berisi informasi mengenai bahaya, resiko, kerentanan dan kapasitas suatu wilayah. Aplikasi ini dibangun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan dukungan dari PU-Pera, BMKG dan lembaga lainnya. Adanya pengenalan aplikasi ini diharapkan masyarakat tanggap terhadap bencana dan mengetahui kondisi suatu wilayah yang memungkinkan terjadinya bencana.

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*